Masih ada tatap rindu itu, menarih merdu dengan tarian sendu. Aku tak tau bagaimana cara agar ku lukiskan kemerduan ini hanya berlambangkan sendu. Tak tau mengapa tatapan ini seolah seperti mendung termenung. Aku bingung mengapa gerangan, mengapa diri ini merasa letih dan tertatih.
Bertanya-tanya segudang Tanya, kepada hati. Berharap hanyalah hati yang memiliki jawaban yang nyata, tapi menurutku tidak, menurutku hati tak akan dapat menjawab bersama logika, sungguh logika tak dapat beromantis ria dengan hati, sungguh dunia ini telah lama dihancurkan dengan kedok ilmiah yang menyimpan seribu dengki.
Mari kita kaji, sungguh hati, akal, dan kata tak pernah sama dengan ucapan. Adakah sebangsat itu?, bagaimana cara kita menyatukan keselarasan bahwa hati akan selaras rupa dengan akal ataupun perkataan akan menjadi pribadi jujur dalam mengantarkan seseaji kesimpulan itu?
Sungguh hidup ini, telah dihancurkan dengan ketidak seimbangan yang kita hancurkan. Sungguh telah lama neraca keseimbangan hidup telah pergi, sungguh telah lama neraca tulus lenyap di muka bumi ini. Mungkinkah kita menuntut pada seberkas gagasan bijak raja? “menurutk raja akan meludahi kita, karna kerakusannya akan di hancurkan dengan sebuah idealis.
Sungguh Bumi ini,telah lama di lenyapkan dengan penghuninya, kita hanya akan bangga dengan beribu teknologi dan kecangihan, kita bangga bahwa banyak yang telah berevolusi di bumi, kita bahkan akan menepuk dada bangga bahwa kita lahir di zaman yang tak pernah ada sebelumnya, kita bangga menjunjung teori-teori, kita bangga dengan beribu madzab yang membuat kita tega menghakimi pendudukan selain kita, kita sibuk menumpuk harta, tapi lupa bagaimana membuat harta itu tersenyum, kita sibuk membuat karir kita bekerja dengan bijak sampai-sampai kita lupa telah banyak orang yang kita sikut. Kita terlalu sibuk mencari kesuksesan sampai kita lupa bahwa kegagalan juga akan bersemayam, kita terlalu sibuk memotivasi diri bahwa kaya itu perlu, kita terlalu sibuk memotivasi diri bahwa hidup layak itu perlu, kita terlalu sibuk menjaga orang-orang yang kita tapi melupakan tangisan bengik anak-anak itu yang terluka para oleh jalan raya.
Mungkin jika suatu saat nanti, pengamen bengis, dengan denyut-denyut rencehan pada kantongnya, dengan bau dekil dan compang-camping akan berkata melalui tatapan senduhnya: “Jika suatu saat kalian hampir menjadi Tuhan, jangalah lupa bahwa…….
“Kami tak pernah menjadi hambamu”
Bogor, 23-Maret 2015
Senin, 23 Maret 2015
Syair Satu menit
Rasanya sebuah keindahan ketika kita ingin semua
indah, keindahan lahir dari jiwa, dan jiwa dibesarkan oleh cinta.
Cinta adalah
hal terindah dalam setiap permasyuri langkah hidupku, serasa bunga mekar tanpa
penyerbukan jika cinta telah bicara, rasanya semua indah,
cinta tak menuntutmu
sempurna, cinta membawamu menuju kesempurnaan, ketahuilah dalam tubuh setiap
manusia ada sebuah ruang kosong, ada sebuah puzzle, ada sebuah tempat kosong
yang tak berisi, tempat di mana semua kekuranganmu, sampai kapanpun engkau
taakan pernah sempurna, kecuali ruang itu telah terisi, cintalah yang akan
mengisi ruang kosong itu, dan
sampai kapanpun meski ruang itu telah terpatri
dengan cinta, engkau tak akan pernah sempurna tapi engkau merasa lebih sempurna
dari sebelumnya......
Gorontalo,29-12-2013
Selasa, 03 Februari 2015
Angin tak bisa membaca suara rindu apakah itu. Dan daun-daun seolah-olah melambaikan tangan selamat tinggal kepadamu. Rumput pun tertunduk layu pada langkah kakimu yang sebentar lagi akan pergi.
Tak tau mengapa langit tersenyum mendung padaku, seolah sebuah isyarat kaligrafi yang tergambar dalam kanvasnya bahwa selamat datang di dunia rindu.
Tak ada dispensasi terbaik jika ku paksakan alam untuk tidak lagi membuatku meneteskan air mata. Karena mereka berjalan dengan langkah kaki takdir, dimana setiap kerinduan ada dalam setiap kesempatan.
Tak banyak senyuman yang bisa ku persembahkan hanya satu tatapan pasti bahwa, Langit akan kembali tersenyum menunggu kedatanganmu.
Manado,4 Feb 2014
Bang Hunta
Kamis, 08 Januari 2015
Rinduku
Selamat pagi Dunia, selamat pagi wahai adindaku. 16 hari
sudah diriku mengijak dunia rantau, berbagai letih, air mata , serta rindu
kampung halam tak terbendung lagi, andaikan diriku di berikan kesempatan, aku
hanya ingin waktu antara Manado dan Bogor di persatukan agar tak ada lagi yang
namanya keletihan dalam melepas rindu, tapi apa daya diriku hanyalah manusia
biasa yang tak kuasa akan waktu aku hanya bisa berdoa bersama waktu berharap
dia datang bersama dengan saat yang kutunggu. Ingin rasanya berbincang
bersamamu di warung kopi bersama hembusan angin itu, ingin rasanya menghirup
udara yang sama dengan udara yang engkau hirup bersama rindu, ohhh Langit apa
arti dari pada rindu, bisakah seorang Khalil Djibran mengambil sejilid buku
tentang tafsir rindu bisakah Jalaludin Rumi menafsirkan apa itu rindu. Sungguh
aku pun tak pernah tau apa arti rindu, semua telinga ingin mendengarkan
tafsiranku tentang makna rindu jawabku singkat. “Engkau akan berbicara dalam
hati bersama hembusan angin serta menitihkan air mata, engkau merasa seakan
ruhnya menjelma bersama angin ketika engkau berbicara bersama tetesan air
matamu serasa saat itu ia telah mengecupmu, seolah ia telah memelukmu dari
kejauhan. Ohh rindu hanya air mata yang mampu menafsirkan. Dada pun mulai
sesak, mata pun mulai menghampa. Di lorong-lorong sekolah ku temukan setitik
senyumanmu di sana, tapi kita tak ada lagi senyuman itu, kini fatamorganalah
yang mengantarkanku ke sana tersenyum sendiri membayangkan itu. Saat itu memang
aku merantau, saat itu diriku tak bisa membuatmu tersenyum di pagi hari, hari
ini engkau hanya bisa bercumbu dengan bayangku, hari ini engkau hanya akan
menitihkan air mata melihat mereka bergandengan bersama. Tapi sesungguhnya hati
berjanji sepenuh hati, tahukah kamu hati senantiasa berontak bersama rindu,
tapi apalah daya wahai adinda aku tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa segagah
mereka. Tapi ingatlah suatu saat jika kesuksesan telah menjemputku, maka 1 hal
yang tak ku lupakan, yakni orang yang senantiasa bersama ku di kalah susah dan
rindu. Tahukah kamu sekeras apapun perjuanganku, sekeras apapun diriku, secuek
apapun parasku, sungguh aku tak pernah melupakan orang yang senantiasa menyayangimu, meski hubungan ini hanyah
sebesar biji jagung saja, tapi semoga hati ini bisa setinggi Kelapa di tepi
pantai itu adinda. Tunggulah aku di seberang sana, temuilah aku di kalah engkau
lelah, letih dan tak lagi bertepi sedih. Sungguh aku akan tetap di sini bersama
angin yang akan menjadi sahabat sejati. Ingat!! tunggulah aku di sebrang sana
oh adinda, aku tak ingin berjanji tinggi saat ini. Biarlah hati yang akan
menjadi ruang rahasianya. Aku menunggu di hembusan angin selanjutnya, kapan
lagi kita akan bertemu meski hanya sekilas engkau tersenyum kapan lagi kita
akan bernyanyi ria bersama. Sungguh tatapanmu membasuh luka ini.
Bogor
24-08-2014
Bang
Hunta
Langganan:
Postingan (Atom)